Selasa, Mei 26, 2015

Abu Nawas dan Ibu Angkatnya

Pada suatu hari abu nawas menghadap ke Istana. Ia pun bercakap-cakap dengan Sultan dengan riang gembira. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran di benak Sultan. “Bukankah Ibu si abu nawas ini sudah meninggal? Aku ingin mencoba kepandaiannya sekali lagi, Aku ingin menyuruh dia membawa ibunya ke istanaku ini. Kalau berhasil akan aku beri hadiah seratus dinar. “Hai, abu nawas,” titah Sultan, “Besok bawalah Ibumu ke istanaku, nanti aku beri engkau hadiah seratus dinar.” Abu Nawas kaget. “Bukankah beliau sudah tahu kalau ibuku sudah meninggal, tapi mengapa beliau memerintahkan itu,” pikirnya. Namun dasar abu nawas, ia menyanggupi perintah itu. “Baiklah, tuanku, esok pagi hamba akan bawa ibu hamba menghadap kemari,” jawabnya mantap. Setelah itu ia pun mohon diri. Sesampai di rumah, setelah makan dan minum, ia pergi lagi. Dijelajahinya sudut-sudut negeri itu, menyusuri jalan, lorong dan kampung, untuk mencari seorang perempuan tua yang akan dijadikan sebagai ibu angkat. Rupanya tidak mudah menemukan sesosok perempuan tua. Setelah memeras tenaga mengayun langkah kesana kemari hingga jontor, barulah ia menemukan yang dicari. Perempuan itu adalah seorang pedagang kue apem di pinggir jalan yang sedang memasak kue-kue dagangannya. Dihampirinya perempuan tua itu. “Hai, ibu, bersediakah engkau kujadikan ibu angkat?” kata abu nawas. “Kenapa engkau berkata demikian?” tanya si Ibu tua itu. “Apa alasannya?” Maka diceritakanlah perihal dirinya yang mendapat perintah dari Sultan agar membawa ibunya ke istana. Padahal ibunya sudah meninggal. Juga dijanjikan akan membagi dua hadiah dari Sultan yang akan diterimanya. “Uang itu dapat ibu simpan untuk bekal meninggal bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan,” kata abu nawas. “Baiklah kata si Ibu tua itu, aku sanggup memenuhi permintaanmu itu.” Setelah itu abu nawas menyerahkan sebuah tasbih dengan pesan agar terus menghitung biji tasbih itu meskipun di depan Sultan, dan jangan menjawab pertanyaan yang diajukan. Sebelum meninggalkan perempuan itu, abu nawas wanti-wanti agar rencana ini tidak sampai gagal. Untuk itu ia akan menggendong perempuan tua itu ke istana. “Baiklah anakku, moga-moga Tuhan memberkatimu,” Kata si ibu tua. “Dan terutama kepada Ibuku…” Keesokan harinya pagi-pagi sekali abu nawas sudah sampai di istana lalu memberikan salam kepada Sultan. “Waalaikumsalam, abu nawas,” jawab Sultan. Setelah itu Sultan memandang abu nawas. Bukan main terkejutnya Sultan melihat abu nawas menggendong seorang perempuan tua. “Siapa yang kamu gendong itu?” tanya Sultan. “Diakah ibumu?” tapi kenapa siang begini kamu baru sampai?” “Benar, tuanku, inilah ibu Patik, beliau sudah tua dan kakinya lemah dan tidak mampu berjalan kemari, padahal rumahnya sangat jauh. Itu sebabnya patik gendong ibu kemari,” kata abu nawas sambil mendudukkan ibu tua di hadapan Sultan. Setelah duduk ibu tua itu pun memegang tasbih dan segera menghitung biji tasbih tanpa henti meski Sultan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Tentu saja Sultan tersinggung, “Ibumu sangat tidak sopan, lagi pula apa yang dikatakannya itu sampai tidak mau berhenti?” Sembah abu nawas, “Ya tuanku Syah Alam, suami ibu patik ini 99 banyaknya. Beliau sengaja menghafal nama-nama mereka satu persatu, dan tidak akan berhenti sebelum selesai semuanya.” Seratus Dinas Demi mendengar ucapan abu nawas tadi perempuan tua itu pun melempar tasbih dan bersembah datang kepada Sultan. “Ya tuanku Syah Alam,” katanya, “Adapun patik ini dari muda sampai tua begini hanya seorang suami hamba. Apabila sekarang ini berada di hadapan tuanku, itu adalah atas permintaan abu nawas. Dia berpesan agar patik menghitung-hitung biji tasbih dan tidak menjawab pertanyaan tuanku. Nanti abu nawas akan membagi dua hadiah yang akan diterimanya dari tuanku.” Begitu mendengar ucapan perempuan tua itu Sultan tertawa dan menyuruh memukul abu nawas seratus kali. Ketika perintah itu akan dilaksanakan, abu nawas minta izin untuk dipertemukan dengan Sultan. “Ya tuanku, hukuman apakah yang akan tuanku jatuhkan kepada hamba ini?” “Karena engkau berjanji kepadaku akan membawa ibumu kemari, akupun berjanji akan memberi hadiah uang seratus dinar, tapi karena kamu tidak bisa memenuhi janjimu, dapatlah engkau seratus kali pukulanku,” kata Sultan. “Ya tuanku, Syah Alam,” kata abu nawas, “Patik berjanji dengan perempuan tua ini akan membagi dua hadiah yang akan tuanku berikan kepada hamba, tetapi karena sekarang hamba mendapat dera, hadiah itu juga harus dibagi dua, karena yang bersalah dua orang, patik terimalah hukuman itu, tetapi lima puluh seorang dengan perempuan tua ini.” Dalam hati Sultan bergumam, “Jangankan dipukul lima puluh kali, dipukul sekali saja perempuan tua ini tidak akan mampu berdiri.” Setelah itu Sultan memberi lima puluh dinar kepada perempuan tua itu sambil berpesan agar tidak cepat percaya kepada abu nawas bila lain kali menemuinya. Dengan suka cita diterimanya hadiah itu dan dipandangnya abu nawas. “Ya tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun, jika ibuku telah mendapat anugerah dari paduka, tidak adil kiranya bila anaknya ini dilupakan begitu saja.” “Hmm…ya, terimalah pula bagianmu,” ujar baginda sambil tersenyum, “Ini…” Semua orang tertawa dalam hati. Setelah abu nawas bermohon diri pulang ke rumah. Demikian pula perempuan tua itu dan semua yang hadir di Balairung, dengan perasaan masing-masing.

Kamis, Februari 14, 2013

Anda Seharusnya Bisa

Di awal 90-an sebtuah organisasi terkenal memutuskan untuk menawarkan paket pesniun dini kepada sejumlah pegawai. Banyak yang menerima paket tersebut dan sebagai konsekuensinya terhadap sejumlah posisi di seluruh organanisasi yang perlu diisi. Untuk merangsang semangat dan keberanian staf yang tertinggal, organisasi membuka lowongan bagi orang-orang yang telah bekerja di dalam perusahaan. Seorang pria yang menjadi petugas kebersihan organisasi tersebut selama 8 tahun secara lisan mengajukan permintaan promosi kepada manajernya untuk posisi caretaker. Dengan 8 tahun pengalaman, tanpa seharipun cuti sakit selama itu, dan dukungan dari semua orang yang telah ia layani, ia sungguh tepat dengan pekerjaan semacam itu dan layak mendapatkan promosi. Setelah menyelesaikan urusannya dengan para pensiunan, sang manajer mencari syaf yang lebih beerkualitas dan menginginkan sebuah penilaian kompetensi bagi semua stafnya yang masih ada, yang mengajukan lamaran dipromosikan mengisi jabatan yang kosong. Orang yang melamar untuk promosi itu ketakutan saat diberi tahu ia harus mengikuti tes untuk mengukur kompetensinya pada pekerjaan baru yang ia inginkan. Padanya, ia membuka rahasia gelapnya pada rekan-rekan kerjanya selain menggoreskan tanda tangan, ia tidak dapat menulis, daan kemampuan membacanya juga tidak lebih baik. Ia lebih ketakutan lagi saat dipanggil oleh manajemen untuk mengkonfirmasi alasannya menolak mengikuti tes. Satu hal berakibat pada hal lain, manajemen menyampaikan padanya bahwa dengan keadaannya yang buta huruf, ia tidak ada tempat di organisasi ini, bahkan untuk menjadi petugas kebersihan. Kompensasi satu-satunya untuk ini semua adalah pembayaran yang memadai untuk pelayanan 8 tahunnya. Orang itu meninggalkan perusahaan Minggu berikutnya.

Senin, November 01, 2010

Keceriaan

Kadang-kadang kita harus bercermin pada anak-anak. Mereka begitu ceria, mereka begitu menyenangkan.

Inilah yang selalu ditunjukkan oleh anak-anak. Mereka tidak peduli status sosialnya, tidak peduli pendidikannya juga tidak peduli apa pekerjaan orangtuanya. Yang penting heppi.

Selasa, Agustus 31, 2010

OBAT MUNTAH

Dalam perjalanan seorang ahli obat dari Cina, dia berhasil menemukan dan mengembangkan obat untuk mual-mual dan muntah yang terkenal sampai sekarang.Sayang saya lupa nama obatnya. Tapi bila anda ke toko obat Cina, bilang beli obat untuk mual dan muntah pasti akan di tunjukkan obatnya.
Awalnya dia selalu memperhatikan kucingnya si Meong. Si Meong bila sedang muntuh-muntah ternyata dia lari ke kebun dan makan rumput, terutama kalau ada rumput ilalang. Nah dari pengamatan ini dia kemudian mencoba mengambil beberapa daun ilalang kemudian direbus dan dicobakannya pada pasiennya. Ternyata hasilnya luar biasa. Pasiennya cocok dan tidak muntah-muntah lagi. Untuk lebih meyakinkan dia mencoba mengambil bagian daun dan bagian batang, diambil masing-masing segenggam, kemudian direbus dan air rebusan tadi di cobakan pada pasien. Dan ternyata bagian akar memberikan efek yang lebih cepat dan lebih baik dibandingkan dengan bagian daun. Kemudian dia mulai berpikir untuk memproduksi obat yang berbahan dasa akar ilalang ini menjadi obat yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat banyak.

Jumat, Agustus 21, 2009

PEMAHAMAN ISLAM YANG KELIRU

Ada sebuah cerita, di mana di dalam suatu kampung ada lima orang buta. Mereka tidak buta dari lahir. Pada suatu hari mereka di ajak sama kepala desa ke kebun binatang. Singkat cerita mereka di ajak melihat gajah.Dan karena mereka tidak bisa melihat maka mereka ingin sekali merabanya. Kemudian mereka mendekat dan mulai memegangnya. Orang yang pertama memegang gadingnya dan berteriak 'Oh ternyata seperti tombak'. Lalu orang yang kedua ikut mendekat, dan dia memegang belalainya. Dan diapun bilang 'Oh bukan seperti tombak, gajah itu seperti ular'. Kemudìan orang yang ketiga ikut mendekat dan memegang bagian perut. Kemudian diapun bilang bahwa gajah itu ternyata seperti dinding. Orang ke empatpun ikut mendekat dan memegang bagian kaki dan dia bilang kalau ternyata gajah itu seperti tiang. Dan orang yang terakhir ikut memegang gajah dan ternyata yang di pegang adalah bagian ekornya. diapun berteriak bahwa ternyata gajah itu seperti sulak. Para pembaca sesungguhnya seperti itulah pemahaman kita kaum muslim terhadap ìslam. Dan asumsi seperti ini akan terus muncul kalau kita tidak mau terus belajar.

Selasa, Maret 10, 2009

Konferensi Kutu Se Dunia

Pada suatu pagi di Pantai Sanur Bali, seekor kutu sedang berjalan dengan tergesa-gesa dengan raut wajah yang kumal, awut-awutan dan tentu saja sangat kelelahan. Sedang asyik berjalan tiba-tiba dia di tegur sama seekor kutu yang lain yang kelihatan sangat necis, rapi dan jauh dari kesan amburadul.
"Hai kawan kenapa sih penampilan kamu kok amburadul seperti itu?" tanya si kutu Rapi
"Lah emang kenapa kalau aku seperti ini?" jawab si kutu Kucel
"Ya enggap apa-apa sih, emang kamu ke sini ikut apa?"
"Aku ikut di kumis pengendara motor besar dari Jakarta, makanya kena angin dan debu"
"Oh gitu. Lain kali kalau mau rapi ikutlah pramugari pesawat, pasti rapi dan wangi"
"Iya bener juga ya, tapi bagaimana caranya aku bisa ikut di sana" tanya si kutu Kucel
"Oh itu gampang. Begini caranya, kamu masuklah ke toilet wanita dan nempelah di tepat pipis kemudian tunggu sampai pramugari tadi masuk, pipis dan loncatlah kamu di rambut pramugari tadi, Gampang kan!" Jawab si kutu Rapi
--------------
Setelah satu minggu berlalu, di pantai Sanur matahari bersinar lembut. Pagi yang indah. Seekor kutu uang berpenampilan rapi sedang berjemur menikmati panasnya mentari pagi. Dan tiba-tiba datang temannya seekor kutu yang kucel mendekati
"Hei kawan kenapa kamu masih berpenampilan kucel seperti itu, apa nasehatku kemarin tidak kamu lakukan?" tanya si Rapi
"Oh sudah, aku sudah masuk ke toilet, terus nempel di rambut pramugari, tapi entah mengapa tiba-tiba seperti terjadi gempa dan OH... aku nempel lagi di kumis pengendara motor besar"
???????????????????????????????????????????????????????/

Rabu, Maret 04, 2009

ULAR DAN ILALANG

Seekor ular adalah tetap menjadi ular, selamanya. tapi kenapa ya ular lidahnya bercabang dua?
Konon jaman dahulu ada dua orang sakti yang ingin tahu rahasia kehidupan yang abadi dari para dewa. Maka terkuaklah rahasianya, bahwa ternyata para dewa meminum air kehidupan yang ada di puncak svargaloka. Maka berangkatlah dua orang ksatrga tadi mencari air kehidupan, mereka ingin hidup abadi seperti para dewa. Singkat cerita mereka berhasil menemukannya. Dan memang dasar sifat manusia yang tamak dan tidak mau di saingi, mereka berebut ingin memiliki sendiri air kehidupan tadi. Alhasil karena dipakai rebutan air yang hanya sebotol tadi tumpah jatuh mengenai pohon ilalang. Melihat air kehidupan yang jatuh tadi serta merta si ular tadi menjilati daun ilalang. Nah karena daun ilalang itu sangat tajam maka lidah ular terbelah jadi dua. Dan karena ular sama ilalang tadi sempat meminum air kehi dupan makanya sampai sekarang mereka ada di mana-mana dan tidak bisa di hilangkan.

Senin, Desember 22, 2008

Jangan Titip Uang Sama Polisi

Aku punya teman satu kos waktu mahasiswa dulu, namanya Abu Hanifah. Dia orang Jakarta asli, kuliah di Fak. Sosial Politik Univesitas Sebelas Maret, Solo. Seperti mahasiswa pada umumnya, kadang-kadang kami suka kehabisan uang bulanan, dan pinjam sana pinjam sini. Masih untung ada ibu Barjo yang punya warung, bisa dimintai hutang alias ngebon makan. Nah critanya si Abu Hanifah ini sudah mau ujian semesteran, maka segala uang SPP dan lain-lainnya harus lunas. kalau di total hampir lima ratus ribu rupiah. Abu bingung karena uang kiriman dari emaknya sudah habis buat ngebayar hutang-hutangnya bulan kemarin. Sementara mau minta lagi ke orang tua pasti tidak di beri, wong ayahnya cuma karyawan swasta di pabrik permen. Nah saking pusingnya dia menulis surat begini:
Kepada Yth Tuhan,
Berilah hambamu ini uang lima ratus ribu saja, untuk bayar SPP dan uang semesteran. Karena kalau tidak bayar sekarang tidak boleh ikut ujian dan harus ngulang satu semester lagi, kasihan nanti emak gue. Wassalam Abu Hanifah.

Kemudian di poskanlah surat tersebut di kotak pos di dekat kos-kosannya.
Tak lama kemudian datang tukang pos mengambil surat yang ada di kotak pos, di bacanya surat dari Abu tadi. Wah ini aneh, dari orang gila kali". pikir tukang pos. Nggak mau ambil pusing di buanglah surat tadi di kotak sampah.
Ternyata dari jauh ada seorang polisi yang mengamati kelakuan tukang pos tadi. Kemudian polisi tadi melihat ke tempat sampah dan mengambil surat yang di buang tukang pos tadi dan mulai di bacanya surat itu. Setelah habis membaca surat tadi, timbullah rasa iba di hati pak polisi. Dikumpulkanlah iuran dari teman-temannya. Dan ternyata terkumpul dua ratus ribu. Nggak apa-apa lah dari pada nggak sama sekali. Kemudian uang tadi di masukkan ke dalam amplop. Dan dengan hati-hati pak polisi tadi datang ke twmpat kos Abu tadi. Dilihatnya si Abu masih rajin belajar. Tak mau mengganggu, amplop tadi di selipkan pak polisi di bawah pintu. Si Abu melihat dan heran ada apa ya polisi kok datang tidak menemui dan menyelipkan amplop? Kemudian di bukanya amplop tadi. Dan setelah melihat isi amplop tadi dengan sedikit kecewa karena hanya dua ratus ribu dan masih kurang, kemudian dia menulis surat lagi
Kepada yth Tuhan,
Lain kali jangan menitipkan uangnya sama polisi. Terima kasih
???????????????????????