Di awal 90-an sebtuah organisasi terkenal memutuskan untuk menawarkan paket pesniun dini kepada sejumlah pegawai. Banyak yang menerima paket tersebut dan sebagai konsekuensinya terhadap sejumlah posisi di seluruh organanisasi yang perlu diisi. Untuk merangsang semangat dan keberanian staf yang tertinggal, organisasi membuka lowongan bagi orang-orang yang telah bekerja di dalam perusahaan.
Seorang pria yang menjadi petugas kebersihan organisasi tersebut selama 8 tahun secara lisan mengajukan permintaan promosi kepada manajernya untuk posisi caretaker. Dengan 8 tahun pengalaman, tanpa seharipun cuti sakit selama itu, dan dukungan dari semua orang yang telah ia layani, ia sungguh tepat dengan pekerjaan semacam itu dan layak mendapatkan promosi.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan para pensiunan, sang manajer mencari syaf yang lebih beerkualitas dan menginginkan sebuah penilaian kompetensi bagi semua stafnya yang masih ada, yang mengajukan lamaran dipromosikan mengisi jabatan yang kosong. Orang yang melamar untuk promosi itu ketakutan saat diberi tahu ia harus mengikuti tes untuk mengukur kompetensinya pada pekerjaan baru yang ia inginkan. Padanya, ia membuka rahasia gelapnya pada rekan-rekan kerjanya selain menggoreskan tanda tangan, ia tidak dapat menulis, daan kemampuan membacanya juga tidak lebih baik. Ia lebih ketakutan lagi saat dipanggil oleh manajemen untuk mengkonfirmasi alasannya menolak mengikuti tes. Satu hal berakibat pada hal lain, manajemen menyampaikan padanya bahwa dengan keadaannya yang buta huruf, ia tidak ada tempat di organisasi ini, bahkan untuk menjadi petugas kebersihan. Kompensasi satu-satunya untuk ini semua adalah pembayaran yang memadai untuk pelayanan 8 tahunnya. Orang itu meninggalkan perusahaan Minggu berikutnya.
Tampilkan postingan dengan label Jamu ati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jamu ati. Tampilkan semua postingan
Kamis, Februari 14, 2013
Anda Seharusnya Bisa
Di awal 90-an sebtuah organisasi terkenal memutuskan untuk menawarkan paket pesniun dini kepada sejumlah pegawai. Banyak yang menerima paket tersebut dan sebagai konsekuensinya terhadap sejumlah posisi di seluruh organanisasi yang perlu diisi. Untuk merangsang semangat dan keberanian staf yang tertinggal, organisasi membuka lowongan bagi orang-orang yang telah bekerja di dalam perusahaan.
Seorang pria yang menjadi petugas kebersihan organisasi tersebut selama 8 tahun secara lisan mengajukan permintaan promosi kepada manajernya untuk posisi caretaker. Dengan 8 tahun pengalaman, tanpa seharipun cuti sakit selama itu, dan dukungan dari semua orang yang telah ia layani, ia sungguh tepat dengan pekerjaan semacam itu dan layak mendapatkan promosi.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan para pensiunan, sang manajer mencari syaf yang lebih beerkualitas dan menginginkan sebuah penilaian kompetensi bagi semua stafnya yang masih ada, yang mengajukan lamaran dipromosikan mengisi jabatan yang kosong. Orang yang melamar untuk promosi itu ketakutan saat diberi tahu ia harus mengikuti tes untuk mengukur kompetensinya pada pekerjaan baru yang ia inginkan. Padanya, ia membuka rahasia gelapnya pada rekan-rekan kerjanya selain menggoreskan tanda tangan, ia tidak dapat menulis, daan kemampuan membacanya juga tidak lebih baik. Ia lebih ketakutan lagi saat dipanggil oleh manajemen untuk mengkonfirmasi alasannya menolak mengikuti tes. Satu hal berakibat pada hal lain, manajemen menyampaikan padanya bahwa dengan keadaannya yang buta huruf, ia tidak ada tempat di organisasi ini, bahkan untuk menjadi petugas kebersihan. Kompensasi satu-satunya untuk ini semua adalah pembayaran yang memadai untuk pelayanan 8 tahunnya. Orang itu meninggalkan perusahaan Minggu berikutnya.
Senin, November 01, 2010
Keceriaan
Kadang-kadang kita harus bercermin pada anak-anak. Mereka begitu ceria, mereka begitu menyenangkan.
Inilah yang selalu ditunjukkan oleh anak-anak. Mereka tidak peduli status sosialnya, tidak peduli pendidikannya juga tidak peduli apa pekerjaan orangtuanya. Yang penting heppi.
Inilah yang selalu ditunjukkan oleh anak-anak. Mereka tidak peduli status sosialnya, tidak peduli pendidikannya juga tidak peduli apa pekerjaan orangtuanya. Yang penting heppi.
Senin, Desember 15, 2008
Pengamen dan Pencuri

Sebenarnya aku sih tidak anti pengamen, mereka sudah berusaha mencari uang dengan kreatifitas mereka, dengan "sedikit" kemampuan yang mereka miliki. Terkadang mereka dapat sedikit uang tapi juga mungkin dapat banyak uang. Yah pokoknya mereka sedikit lebih terhormat di banding pengemis. Biasanya mereka ngamen itu ya di bus-bus, tapi tak jarang juga dari rumah ke rumah. Nah yang saya ceritain ini pengamen yang masuk di komplek perumahan di tempatku. Ada dua orang pengamen siang hari jam 12-an lah, jadi tahu sendiri lah kalau jam segitu itu di komplek pasti sepi orang, tapi kok mereka tetap ngamen juga ya?. Ternyata mereka punya maksud lain, nah tetanggaku itu suka menjemur pakaian di luar rumah alias di pinggir jalan. Nah selagi sepi yang punya rumah kelihatannya sedang tidur lagi, dua orang pengamen tadi nyamber tuh jemuran. Tapi dasar lagi apes tuh maling eh- pengamen ada tetangga lain yang melihat dan di teriakin malingggggggg......... Nah kabur deh itu pengamen. Meskipun aku sempat mengejar, tapi nggak ketangkep juga, mereka lari lewat jalan kampung pinggir kali.
Sebenarnya nerapa sih penghasilan seorang pengamen?. Tidak tentu memang. Tapi dengan penghasilan yang tidak tentu tadi menjadi alasan pembenaran kalau mereka juga boleh mencuri?. Baiklah simpan dulu jawaban anda.
Kebanyakan pengamen adalah anak-anak muda yang belum berkeluarga, belum punya tanggungan kecuali untuk dirinya sendiri. Mereka sudah tidak sekolah, dan yang lebih parah lagi mereka dari keluarga yang tidak peduli apa yang di kerjakan anaknya, atau bahkan tidak peduli dengan akhlak. Barangkali memang mereka tidak pernah mendapat pendidikan akhlak atau bahkan memang tambeng. Nah yang lebih parah lagi kebanyakan uang hasil mengamen yang mereka dapatkan habis untuk beli rokok dan untuk minum-minum.
Lalu bagaiman dengan kita-kita yang suka ngasih kalau ada pengamen?
Apakah kita sudah merasa menjadi orang alim yang memberi shodaqoh kepada fakir miaskin? Atau suadah merasa membantu mereka? Atau sekedar kasihan atau banyak lagi alasan yang membenarkan tindakan kita?
Tapi tidaklah kita pernah berpikir, bahwa dengan memberi uang kepada pengamen kita juga memberi bantuan kepada perokok, pemabuk atau bahkan pencuri?.
Mari kita kaji lagi tindakan kita dan mari lebih peka kepada lingkungan, saya tidak tahu dimana anda, tapi saya tahu anda punya alasan yang mendasari segala perbuatan anda.
Kamis, Desember 11, 2008
Antara Pengemis dan Penipu

Di perempatan-perempatan jalan di Jakarta dan Bekasi jamak kita lihat pengemis, pengamen dan asongan berseliweran. Mereka memanfaatkan lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, di mana kendaraan berhenti beberapa menit menunggu giliran jalan. Para pengemis dengan gayanya yang seolah-olah lumpuh, cacat atau ada yang menggendhong anak kecil. Tingkah laku mereka mengundang iba bagi siapa saja. Sehinggapara pengendara mobil dan motor tergerak hatinya memberikan sedekah yang entah ikhlas atau tidak, pokoknya memberi. Pagi mereka sudah mulai "kerja", disaat orang sibuk mau pergi ke kantor. Siang mereka berpanas-panasan mengharapkan iba dari pengendara mobil.
Tapi kalau kita mau mengikuti lagi, pemandangannya akan jadi lain di kala sudah agak malam, sudah sepi orang. Mereka yang tadinya kelihatan cacat tadi tiba-tiba saja bisa berjalan normal. Mereka yang ada luka di kaki yang kelihatan seperti korengan tadi, tiba-tiba saja sudah membersihkan diri, hilang bekas lukanya dan di buanglah kain pembalut luka yang telah di olesi obat merah dan sedikit tape singkong untuk mengundang lalat. Si ibu yang tadinya menggendong anak, sekarang sudah bebas dan menyerahkan anaknya tadi kepada orang tuanya dengan membayar sewa, atau bahkan bukan orangtuanya yang sengaja menjual anak untuk di jadikan senjata mengharapkan iba dari para dermawan. Pemandangan ini akan menjadi semakin ramai pada saat bulan Ramadhan, dimana umat muslim berlomba-lomba memberikan shodaqohnya.
Apakah para pengemis dan gelandangan tadi orang miskin???
Ya, mereka memang orang miskin.....
Departemen sosial sudah berulang kali menjaring mereka. Mereka di bina di panti sosial dengan di beri bekal ketrampilan khusus yang sekiranya bisa di pakai dalam kehidupan sehari-hari. Tapi nyatanya mereka tetap kabur dan kembali lagi ketempat asalnya, jadi pemgemis gelandangan dan pengamen. Mereka lebih suka mencari makan di jalanan menjadi pengemis dengan berpura-pura sakit, cacat dan lain sebagainya.
Mereka telah menipu orang-orang, mereka telah mengganggu kenyamanan orang di jalan, mereka tidak sadar. Lalu siapa yang akan peduli? Mereka enjoy dengan kehidupan mereka, karena hidup bebas tanpa aturan tanpa ikatan dan tanpa kehidupan sosial yang jelas. Mereka lupa bahwa nanti mereka akan dibangkitkan dari kubur. Atau memang mereka tidak pernah tahu agama, tidak pernah ada yang memberi tahu. Sementara para Ustadz hanya bisa berkoar-koar di masjid di pengajian yang ada amplopnya, dan notabene jamaahnya sudah pada beriman insya Allah. Para ulama sibuk berebut jadi imam masjid sampai di bela-belain berantem Masya Allah.
Rabu, Desember 10, 2008
Sebarkanlah Salam
Sebarkanlah Salam Di Antara Kalian
(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang
Maha Penyayang. (Qs. 36:58)
Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Kamu sekalian
tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman
sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila
kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu
sebarkanlah salam diantaramu sekalian." (HR. Muslim)
Abu Bakar ra. berkata: "Adalah kami bila melihat seseorang muncul dari
kejauhan, selalu mendahuluinya dengan salam sebelum ia mengucapkannya."
(at-Targhib)
Dari Zuhrah bin Khumaishah ra. berkata: "Aku bersama Abu Bakar menaiki
seekor unta. Setiap kali kami melewati suatu kaum kami mengucapkan salam
kepada mereka. Kemudian mereka membalas salam kami lebih banyak dari apa
yang kami katakan. Abu Bakar lalu berkata: "Hari ini manusia mengutamakan
kita dengan kebaikan yang banyak."
Pada suatu hari Umar bin Khaththab pergi mengadukan perihal Ali bin Abi
Thalib kepada Rasulullah saw. Katanya: "Ya Rasulullah, Ali bin Abi Thalib
tidak pernah mendahului mengucapkan salam kepadaku."
Mendengar pengaduannya, Rasulullah segera memanggil Ali ra untuk datang.
Lalu Rasulullah bertanya kepadanya: "Ya Ali, benarkah engkau tidak pernah
memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?"
Ali ra. menjawab: "Ya Rasulullah, hal itu kulakukan karena sabdamu yang
menyebutkan: "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah
akan memberikan baginya istana di surga." Karena itulah, ya Rasulullah,
aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam agar ia mendapat
istana di surga."
(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang
Maha Penyayang. (Qs. 36:58)
Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Kamu sekalian
tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman
sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila
kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu
sebarkanlah salam diantaramu sekalian." (HR. Muslim)
Abu Bakar ra. berkata: "Adalah kami bila melihat seseorang muncul dari
kejauhan, selalu mendahuluinya dengan salam sebelum ia mengucapkannya."
(at-Targhib)
Dari Zuhrah bin Khumaishah ra. berkata: "Aku bersama Abu Bakar menaiki
seekor unta. Setiap kali kami melewati suatu kaum kami mengucapkan salam
kepada mereka. Kemudian mereka membalas salam kami lebih banyak dari apa
yang kami katakan. Abu Bakar lalu berkata: "Hari ini manusia mengutamakan
kita dengan kebaikan yang banyak."
Pada suatu hari Umar bin Khaththab pergi mengadukan perihal Ali bin Abi
Thalib kepada Rasulullah saw. Katanya: "Ya Rasulullah, Ali bin Abi Thalib
tidak pernah mendahului mengucapkan salam kepadaku."
Mendengar pengaduannya, Rasulullah segera memanggil Ali ra untuk datang.
Lalu Rasulullah bertanya kepadanya: "Ya Ali, benarkah engkau tidak pernah
memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?"
Ali ra. menjawab: "Ya Rasulullah, hal itu kulakukan karena sabdamu yang
menyebutkan: "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah
akan memberikan baginya istana di surga." Karena itulah, ya Rasulullah,
aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam agar ia mendapat
istana di surga."
Langganan:
Postingan (Atom)