Aku punya teman satu kos waktu mahasiswa dulu, namanya Abu Hanifah. Dia orang Jakarta asli, kuliah di Fak. Sosial Politik Univesitas Sebelas Maret, Solo. Seperti mahasiswa pada umumnya, kadang-kadang kami suka kehabisan uang bulanan, dan pinjam sana pinjam sini. Masih untung ada ibu Barjo yang punya warung, bisa dimintai hutang alias ngebon makan. Nah critanya si Abu Hanifah ini sudah mau ujian semesteran, maka segala uang SPP dan lain-lainnya harus lunas. kalau di total hampir lima ratus ribu rupiah. Abu bingung karena uang kiriman dari emaknya sudah habis buat ngebayar hutang-hutangnya bulan kemarin. Sementara mau minta lagi ke orang tua pasti tidak di beri, wong ayahnya cuma karyawan swasta di pabrik permen. Nah saking pusingnya dia menulis surat begini:
Kepada Yth Tuhan,
Berilah hambamu ini uang lima ratus ribu saja, untuk bayar SPP dan uang semesteran. Karena kalau tidak bayar sekarang tidak boleh ikut ujian dan harus ngulang satu semester lagi, kasihan nanti emak gue. Wassalam Abu Hanifah.
Kemudian di poskanlah surat tersebut di kotak pos di dekat kos-kosannya.
Tak lama kemudian datang tukang pos mengambil surat yang ada di kotak pos, di bacanya surat dari Abu tadi. Wah ini aneh, dari orang gila kali". pikir tukang pos. Nggak mau ambil pusing di buanglah surat tadi di kotak sampah.
Ternyata dari jauh ada seorang polisi yang mengamati kelakuan tukang pos tadi. Kemudian polisi tadi melihat ke tempat sampah dan mengambil surat yang di buang tukang pos tadi dan mulai di bacanya surat itu. Setelah habis membaca surat tadi, timbullah rasa iba di hati pak polisi. Dikumpulkanlah iuran dari teman-temannya. Dan ternyata terkumpul dua ratus ribu. Nggak apa-apa lah dari pada nggak sama sekali. Kemudian uang tadi di masukkan ke dalam amplop. Dan dengan hati-hati pak polisi tadi datang ke twmpat kos Abu tadi. Dilihatnya si Abu masih rajin belajar. Tak mau mengganggu, amplop tadi di selipkan pak polisi di bawah pintu. Si Abu melihat dan heran ada apa ya polisi kok datang tidak menemui dan menyelipkan amplop? Kemudian di bukanya amplop tadi. Dan setelah melihat isi amplop tadi dengan sedikit kecewa karena hanya dua ratus ribu dan masih kurang, kemudian dia menulis surat lagi
Kepada yth Tuhan,
Lain kali jangan menitipkan uangnya sama polisi. Terima kasih ???????????????????????
Senin, Desember 22, 2008
Jumat, Desember 19, 2008
Serius Apa Lucu
Cak Nun dalam sebuah bukunya yang berjudul "Folklore Madura" menulis tentang lelucon yang saya anggap cukup baik untuk di ceritakan lagi di sini. Cak Nun mengisahkan
bahwa hidup kita ini cuma dagelan atau setidaknya penuh dengan dagelan. Contoh kecil yaitu penggunaan sepatu. Sepatu dirancang untuk melindungi kaki dari kerikil atau benda-benda lain di tanah yang bisa melukai telapak kaki. Tetapi kenyataannya sepatu lebih banyak digunakan untuk berjalan di gedung-gedung yang lantainya 'kinclong' sampai-sampai bisa buat ngaca. Bagaimana lantai yang setiap harinya di-pel itu bisa melukai telapak kaki. Setelah itu kita dianjurkan memakai kaos kaki agar kaki tidak lecet sewaktu memakai sepatu. Sebenarnya sepatu itu dirancang untuk melindungi atau meleceti.
Dalam hidup sehari-hari kita sering mengalami masalah-masalah kecil yang mungkin lucu kalau kita pikirkan. Coba kita ingat banyak kejadian atau apapun yang sesungguhnya tidak pantas terjadi.
bahwa hidup kita ini cuma dagelan atau setidaknya penuh dengan dagelan. Contoh kecil yaitu penggunaan sepatu. Sepatu dirancang untuk melindungi kaki dari kerikil atau benda-benda lain di tanah yang bisa melukai telapak kaki. Tetapi kenyataannya sepatu lebih banyak digunakan untuk berjalan di gedung-gedung yang lantainya 'kinclong' sampai-sampai bisa buat ngaca. Bagaimana lantai yang setiap harinya di-pel itu bisa melukai telapak kaki. Setelah itu kita dianjurkan memakai kaos kaki agar kaki tidak lecet sewaktu memakai sepatu. Sebenarnya sepatu itu dirancang untuk melindungi atau meleceti.
Dalam hidup sehari-hari kita sering mengalami masalah-masalah kecil yang mungkin lucu kalau kita pikirkan. Coba kita ingat banyak kejadian atau apapun yang sesungguhnya tidak pantas terjadi.
Selasa, Desember 16, 2008
Syukur Atau Sombong

Dalam kehidupan kita, kita sering kali mendapat undangan syukuran. Entah itu syukuran atas kelahiran, pernikahan, khitanan atau keberhasilan kita meraih sesuatu. Bersyukur itu memang wajib hukumnya. Bahkan Allah berfirman "Baranng siapa bersyukur atas nikmatKu maka akan aku tambah nikmatKu, tapi barangsiapa kufur atas nikmatKu maka sesungguhnya siksaKu amat pedih". Maka setiap kenikmatan yang kita dapat adalah karunia Allah SWT, dan jangan pernah berpikir bahwa itu karena kepintaran kita atau usah kita semata. Banyak orang yang pintar tapi tidak berhasil dalam mencapai sesuatu, banyak orang yang biasa-biasa saja tapi mereka memperoleh hasil yang luar biasa.
Ya, itulah takdir Allah yang tidak bisa kita tolak. Ok mari kita kembali lagi ke kata syukur tadi. Banyak orang mengekspresikan kata syukur tadi dengan makan-makan, traktir teman, mengundang pengajian, atau ada juga yang melakukan puasa dll.
Lalu bolehkah dalam agama kita mengadakan syukuran seperti itu??......................
Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.
Ada seorang teman telah lulus SMA dan masuk Perguruan Tinggi Negri, kemudian dia bermaksud mengadakan acara syukuran dengan mengundang teman, kerabat dan tetangga. Acaranya cukup meriah layaknya pesta. Berapa dana yang dihabiskan untuk acara itu?. Tentu saja sangat besar.
Tapi mari kita coba tengok tetangga kita, teman kita maupun saudara kita yang kebetulan tidak seberuntung teman tadi, mereka pasti merasa tertekan, malu, dan segudang perasaan tidak enak. Mereka merasa menjadi pecundang dan tidak pantas dihargai. Dan salah-salah mereka akan menjadi musyrik dengan menyalahkan Tuhan yang tidak adil. Lalu kita akan bertanya pada diri kita sudah pada tempatnyakah kalau kita bersyukur dengan mengundang orang-orang lain tadi?.
Kemudian ada lagi seorang kyai, dia akan membagikan zakatnya yang berjumlah ratusan juta. Kemudian dia mengundang ratusan orang fakir miskin ke rumahnya, mereka disuruh berjajar rapi kemudian dibagikan amplop yang isinya hanya cukup untuk makan satu oarang satu hari. Apakah kyai tadi termasuk orang yang bersyukur?.
Agama mengajarkan cara bersyukur dengan shalat dan sujud syukur. Agama mengajarkan saling menghargai perasaan orang lain, bahkan haram hukumnya menyakiti sesam muslim. Agama telah mengajarkan adanya Baitul Maal untuk menampung dan membagikan Zakat kaum muslimin. Lalu kita akan bertanya pada diri kita sendiri apakah yang dilakukan saudara kita tadi Bersyukur atau Ria. Wallahu 'alam.
Senin, Desember 15, 2008
Pengamen dan Pencuri

Sebenarnya aku sih tidak anti pengamen, mereka sudah berusaha mencari uang dengan kreatifitas mereka, dengan "sedikit" kemampuan yang mereka miliki. Terkadang mereka dapat sedikit uang tapi juga mungkin dapat banyak uang. Yah pokoknya mereka sedikit lebih terhormat di banding pengemis. Biasanya mereka ngamen itu ya di bus-bus, tapi tak jarang juga dari rumah ke rumah. Nah yang saya ceritain ini pengamen yang masuk di komplek perumahan di tempatku. Ada dua orang pengamen siang hari jam 12-an lah, jadi tahu sendiri lah kalau jam segitu itu di komplek pasti sepi orang, tapi kok mereka tetap ngamen juga ya?. Ternyata mereka punya maksud lain, nah tetanggaku itu suka menjemur pakaian di luar rumah alias di pinggir jalan. Nah selagi sepi yang punya rumah kelihatannya sedang tidur lagi, dua orang pengamen tadi nyamber tuh jemuran. Tapi dasar lagi apes tuh maling eh- pengamen ada tetangga lain yang melihat dan di teriakin malingggggggg......... Nah kabur deh itu pengamen. Meskipun aku sempat mengejar, tapi nggak ketangkep juga, mereka lari lewat jalan kampung pinggir kali.
Sebenarnya nerapa sih penghasilan seorang pengamen?. Tidak tentu memang. Tapi dengan penghasilan yang tidak tentu tadi menjadi alasan pembenaran kalau mereka juga boleh mencuri?. Baiklah simpan dulu jawaban anda.
Kebanyakan pengamen adalah anak-anak muda yang belum berkeluarga, belum punya tanggungan kecuali untuk dirinya sendiri. Mereka sudah tidak sekolah, dan yang lebih parah lagi mereka dari keluarga yang tidak peduli apa yang di kerjakan anaknya, atau bahkan tidak peduli dengan akhlak. Barangkali memang mereka tidak pernah mendapat pendidikan akhlak atau bahkan memang tambeng. Nah yang lebih parah lagi kebanyakan uang hasil mengamen yang mereka dapatkan habis untuk beli rokok dan untuk minum-minum.
Lalu bagaiman dengan kita-kita yang suka ngasih kalau ada pengamen?
Apakah kita sudah merasa menjadi orang alim yang memberi shodaqoh kepada fakir miaskin? Atau suadah merasa membantu mereka? Atau sekedar kasihan atau banyak lagi alasan yang membenarkan tindakan kita?
Tapi tidaklah kita pernah berpikir, bahwa dengan memberi uang kepada pengamen kita juga memberi bantuan kepada perokok, pemabuk atau bahkan pencuri?.
Mari kita kaji lagi tindakan kita dan mari lebih peka kepada lingkungan, saya tidak tahu dimana anda, tapi saya tahu anda punya alasan yang mendasari segala perbuatan anda.
Kamis, Desember 11, 2008
SATE JAMU
Waktu aku masih kuliah di Solo, aku sering jalan-jalan di Slamet Riyadi. Melihat lihat indanya kota Solo, apalagi kalau malam hari sungguh menakjubkan. Pantas kalau kota Solo di julukin kota 24 jam, karena memang kehidupan di kota Solo tidak mengenal waktu. Kalau kita amati di sepanjang jalan Slamet Riyadi, kita akan melihat warung kecil dengan tulisan "Sate Jamu". Apa ya maksudnya?
Kalau yang tidak tahu maksudnya pastilah di kira jual sate dan jamu jawa atau gimana. Tapi orang sono mah sudah paham yang namanya sate jamu itu adalah sate dari daging "Anjing". Kaget ya.?.
Kenapa di namakan sate jamu menurut yang jual nih, karena daging anjing dipercaya bisa membuat badan jadi fit, tenaga jadi hebat dan libido tentunya akan naik, karena sifat daging anjing yang membuat panas di badan. Apalagi kalau di bumbu mrica wah tambah joss..katanya. Orang aku juga belum pernah coba, haram tahu.
Nah alasan kedua karena demi kesopanan, karena kalau di bilang Sate Anjing, wah sudah kasar banget tuh. Makanya orang Solo kalau sudah memaki orang dengan sebutan ASU berarti sudah marah sekali. Tahu sendiri kan kalau orang Solo itu terkenal halus, bahkan kalau berjalan saja seperti macan luwe(lapar). Dengan sandal hak tinggi dan berkebaya, dengan perhiasan emas dan berlian yang berkelap-kelip, Suaranya pelan dan kalau tertawa kelihatan lesung pipitnya. Lho kok jadi nulis putri Solo.
OK jadi suatu saat anda ke Solo jangan sampai terkecoh dengan sate jamu ini.
Kalau yang tidak tahu maksudnya pastilah di kira jual sate dan jamu jawa atau gimana. Tapi orang sono mah sudah paham yang namanya sate jamu itu adalah sate dari daging "Anjing". Kaget ya.?.
Kenapa di namakan sate jamu menurut yang jual nih, karena daging anjing dipercaya bisa membuat badan jadi fit, tenaga jadi hebat dan libido tentunya akan naik, karena sifat daging anjing yang membuat panas di badan. Apalagi kalau di bumbu mrica wah tambah joss..katanya. Orang aku juga belum pernah coba, haram tahu.
Nah alasan kedua karena demi kesopanan, karena kalau di bilang Sate Anjing, wah sudah kasar banget tuh. Makanya orang Solo kalau sudah memaki orang dengan sebutan ASU berarti sudah marah sekali. Tahu sendiri kan kalau orang Solo itu terkenal halus, bahkan kalau berjalan saja seperti macan luwe(lapar). Dengan sandal hak tinggi dan berkebaya, dengan perhiasan emas dan berlian yang berkelap-kelip, Suaranya pelan dan kalau tertawa kelihatan lesung pipitnya. Lho kok jadi nulis putri Solo.
OK jadi suatu saat anda ke Solo jangan sampai terkecoh dengan sate jamu ini.
Antara Pengemis dan Penipu

Di perempatan-perempatan jalan di Jakarta dan Bekasi jamak kita lihat pengemis, pengamen dan asongan berseliweran. Mereka memanfaatkan lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, di mana kendaraan berhenti beberapa menit menunggu giliran jalan. Para pengemis dengan gayanya yang seolah-olah lumpuh, cacat atau ada yang menggendhong anak kecil. Tingkah laku mereka mengundang iba bagi siapa saja. Sehinggapara pengendara mobil dan motor tergerak hatinya memberikan sedekah yang entah ikhlas atau tidak, pokoknya memberi. Pagi mereka sudah mulai "kerja", disaat orang sibuk mau pergi ke kantor. Siang mereka berpanas-panasan mengharapkan iba dari pengendara mobil.
Tapi kalau kita mau mengikuti lagi, pemandangannya akan jadi lain di kala sudah agak malam, sudah sepi orang. Mereka yang tadinya kelihatan cacat tadi tiba-tiba saja bisa berjalan normal. Mereka yang ada luka di kaki yang kelihatan seperti korengan tadi, tiba-tiba saja sudah membersihkan diri, hilang bekas lukanya dan di buanglah kain pembalut luka yang telah di olesi obat merah dan sedikit tape singkong untuk mengundang lalat. Si ibu yang tadinya menggendong anak, sekarang sudah bebas dan menyerahkan anaknya tadi kepada orang tuanya dengan membayar sewa, atau bahkan bukan orangtuanya yang sengaja menjual anak untuk di jadikan senjata mengharapkan iba dari para dermawan. Pemandangan ini akan menjadi semakin ramai pada saat bulan Ramadhan, dimana umat muslim berlomba-lomba memberikan shodaqohnya.
Apakah para pengemis dan gelandangan tadi orang miskin???
Ya, mereka memang orang miskin.....
Departemen sosial sudah berulang kali menjaring mereka. Mereka di bina di panti sosial dengan di beri bekal ketrampilan khusus yang sekiranya bisa di pakai dalam kehidupan sehari-hari. Tapi nyatanya mereka tetap kabur dan kembali lagi ketempat asalnya, jadi pemgemis gelandangan dan pengamen. Mereka lebih suka mencari makan di jalanan menjadi pengemis dengan berpura-pura sakit, cacat dan lain sebagainya.
Mereka telah menipu orang-orang, mereka telah mengganggu kenyamanan orang di jalan, mereka tidak sadar. Lalu siapa yang akan peduli? Mereka enjoy dengan kehidupan mereka, karena hidup bebas tanpa aturan tanpa ikatan dan tanpa kehidupan sosial yang jelas. Mereka lupa bahwa nanti mereka akan dibangkitkan dari kubur. Atau memang mereka tidak pernah tahu agama, tidak pernah ada yang memberi tahu. Sementara para Ustadz hanya bisa berkoar-koar di masjid di pengajian yang ada amplopnya, dan notabene jamaahnya sudah pada beriman insya Allah. Para ulama sibuk berebut jadi imam masjid sampai di bela-belain berantem Masya Allah.
Rabu, Desember 10, 2008
Sebarkanlah Salam
Sebarkanlah Salam Di Antara Kalian
(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang
Maha Penyayang. (Qs. 36:58)
Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Kamu sekalian
tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman
sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila
kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu
sebarkanlah salam diantaramu sekalian." (HR. Muslim)
Abu Bakar ra. berkata: "Adalah kami bila melihat seseorang muncul dari
kejauhan, selalu mendahuluinya dengan salam sebelum ia mengucapkannya."
(at-Targhib)
Dari Zuhrah bin Khumaishah ra. berkata: "Aku bersama Abu Bakar menaiki
seekor unta. Setiap kali kami melewati suatu kaum kami mengucapkan salam
kepada mereka. Kemudian mereka membalas salam kami lebih banyak dari apa
yang kami katakan. Abu Bakar lalu berkata: "Hari ini manusia mengutamakan
kita dengan kebaikan yang banyak."
Pada suatu hari Umar bin Khaththab pergi mengadukan perihal Ali bin Abi
Thalib kepada Rasulullah saw. Katanya: "Ya Rasulullah, Ali bin Abi Thalib
tidak pernah mendahului mengucapkan salam kepadaku."
Mendengar pengaduannya, Rasulullah segera memanggil Ali ra untuk datang.
Lalu Rasulullah bertanya kepadanya: "Ya Ali, benarkah engkau tidak pernah
memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?"
Ali ra. menjawab: "Ya Rasulullah, hal itu kulakukan karena sabdamu yang
menyebutkan: "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah
akan memberikan baginya istana di surga." Karena itulah, ya Rasulullah,
aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam agar ia mendapat
istana di surga."
(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang
Maha Penyayang. (Qs. 36:58)
Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Kamu sekalian
tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman
sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila
kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu
sebarkanlah salam diantaramu sekalian." (HR. Muslim)
Abu Bakar ra. berkata: "Adalah kami bila melihat seseorang muncul dari
kejauhan, selalu mendahuluinya dengan salam sebelum ia mengucapkannya."
(at-Targhib)
Dari Zuhrah bin Khumaishah ra. berkata: "Aku bersama Abu Bakar menaiki
seekor unta. Setiap kali kami melewati suatu kaum kami mengucapkan salam
kepada mereka. Kemudian mereka membalas salam kami lebih banyak dari apa
yang kami katakan. Abu Bakar lalu berkata: "Hari ini manusia mengutamakan
kita dengan kebaikan yang banyak."
Pada suatu hari Umar bin Khaththab pergi mengadukan perihal Ali bin Abi
Thalib kepada Rasulullah saw. Katanya: "Ya Rasulullah, Ali bin Abi Thalib
tidak pernah mendahului mengucapkan salam kepadaku."
Mendengar pengaduannya, Rasulullah segera memanggil Ali ra untuk datang.
Lalu Rasulullah bertanya kepadanya: "Ya Ali, benarkah engkau tidak pernah
memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?"
Ali ra. menjawab: "Ya Rasulullah, hal itu kulakukan karena sabdamu yang
menyebutkan: "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah
akan memberikan baginya istana di surga." Karena itulah, ya Rasulullah,
aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam agar ia mendapat
istana di surga."
Senin, Desember 08, 2008
Orang Solo Berubah

Ada sebuah cafe di tengah kota di Jakarta. Cafe tersebut bertaraf internasional. Banyak pengunjung dari berbagai belahan dunia suka mampir ke cafe ini. Seorang pelayan yang namanya Pardi sampai hafal betul kelakuan pengunjung cafe tersebut.
Pada suatu hari ada orang Perancis berkunjung di cafe tersebut dan memesan kopi, minuman yang paling terkenal seantero dunia, katanya. Tak berapa lama si Pardi sudah datang membawakan kopi. Namun tanpa di sadari ada seekor lalat masuk dalam kopi tadi. Tapi si orang Perancis tadi tersenyum tidak marah dan cuma minta sendok kecil, kemudian diambilnya lalat tadi dan di minum.
Beberapa hari kemudian datang tamu ke cafe tadi dan ternyata orang Inggris. Tamu tadi juga minta kopi yang paling enak khas buatan Pardi. Kemudian tidak begitu lama si Pardi sudah datang membawa secangkir kopi panas. Dan tanpa sepengetahuan si Pardi ternyata di dalam kopinya ada lalat masuk. Kemudian Si tamu orang Inggris tadi memanggil Pardi dan dengan tersenyum minta di ganti kopi yang baru.
Esoknya datang lagi orang India mampir di cafe dan langsung memesan kopi buatan Pardi. Dan seperti biasa Pardi dengan ramah melayani tamunya. Dan memang lagi apes mungkin, ternyata kopi bikinan Pardi tadi dimasukin lalat. Pardi jadi sedikit takut nanti palangganya bisa marah-marah. Tapi ternyata si orang India tadi hanya minta plastik pada Pardi dan dia mulai mengambil lalat tadi kemudian di masukkan dalam kantong plastik. Kemudian di ambil lagi dan lagi hingga dapat 1 kg, dan dijual untuk beli kopi lagi.????
Tak lama kemudian datang tamu, kali ini orang pribumi tepatnya orang Solo. Tamu tadi juga minta di buatkan kopi yang paling enak. Juga tidak pakai menunggu lama kopinya jadi. Tapi memang dasar cafe Pardi, ternyata didalam kopinya ada lalatnya. Dan apa yang terjadi orang Solo tadi mengamuk dan dibakarnya cafe tadi, sampai hangus tanpa sisa.
Dulu kota Solo sangat terkenal dengan budaya jawanya yang tinggi, penduduknya yang ramah dan santun, sehingga banyak turis asing yang betah dan ingin berkunjung ke Solo. Ragam budaya kesenian dan tradisi yang masih melekat seolah menjadi simbol bahwa orang Jawa adalah orang Solo. Yah itu dulu waktu aku masih kecil dan tinggal di Solo. Tapi sekarang banyak kita lihat berita adanya kerusuhan yang terjadi di Solo. Temperamen orang Solo menjadi gampang marah, mudah tersinggung dan dengan enteng melanggar hukum Masya Allah
Apakah orang Solo memang sudah berubah?????????
Langganan:
Postingan (Atom)